Selebintang.com — “Terbuang Dalam Waktu” adalah lagu Barasuara yang muncul sebagai singel pada 8 Agustus 2023. Video musik resmi menyusul p...
Selebintang.com — “Terbuang Dalam Waktu” adalah lagu Barasuara yang muncul sebagai singel pada 8 Agustus 2023. Video musik resmi menyusul pada 18 Agustus 2023. Lagu ini mengajak pendengar memikirkan waktu yang berjalan, keluarga, dan perhatian yang kadang terlambat diungkapkan. Pembacaan di bawah merupakan tafsir redaksi, bukan penjelasan tunggal dari penciptanya.
Rilis dan orang-orang di balik lagu
Dalam katalog Apple Music, lagu ini tercatat sebagai singel 2023. Keterangan pada video musik resmi Barasuara menyebut Gerald Situmorang sebagai komposer, Asteriska dan Iga Massardi sebagai penulis lirik, serta Gerald, Iga, dan TJ Kusuma dalam aransemen. Erwin Gutawa menangani orkestrasi. Detail kredit itu membantu menjelaskan mengapa lapisan instrumen terasa luas tanpa perlu menebak proses rekamannya.
Video yang disutradarai Nas Affandi memberi jalur cerita visual tersendiri. Dengan menonton dan mendengar keduanya, pembaca bisa membedakan apa yang terdengar dalam rekaman dari penafsiran atas tokoh dan adegan pada videonya.
Bagaimana membaca “Terbuang Dalam Waktu”?
Judulnya menyandingkan dua gagasan: sesuatu yang terabaikan dan waktu yang tidak bisa dihentikan. Salah satu cara membacanya adalah sebagai ajakan memperhatikan orang terdekat selagi masih ada kesempatan. Rasa sesal dapat muncul ketika perhatian hanya tersisa sebagai ingatan. Namun lagu ini juga membuka ruang untuk harapan, sebab menyadari keterbatasan waktu dapat mengubah cara seseorang hadir hari ini.
Kesan itu semakin kuat ketika vokal, permainan band, dan orkestrasi bergerak bersama. Intensitas musik tidak serta-merta menjadikan kisahnya satu peristiwa tertentu; pendengar mungkin mengaitkannya dengan keluarga, persahabatan, atau kehilangan mereka sendiri. Karena itu, klaim tentang sosok nyata yang “pasti” menjadi subjek lagu perlu dihindari tanpa pernyataan dari para pencipta.
Mulai mendengarkan dari mana?
Dengarkan rekaman terlebih dahulu, lalu tonton video resminya untuk melihat bagaimana cerita visual memberi lapisan tambahan. Jika ingin membandingkan cara musisi Indonesia mengolah waktu dan kedekatan keluarga, baca pula ulasan “Sampai Jadi Debu” dari Banda Neira. Keduanya dapat dibaca berdampingan tanpa menyamakan kisah dan penciptanya.